Kamis, 5 Desember 2025, sebuah forum diskusi terbatas namun strategis diselenggarakan di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Kegiatan yang mengusung tema “Connecting Minds, Strengthening Alumni Bonds” ini diinisiasi oleh Alumni Relations Office Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia.
Forum tersebut menghadirkan dinamika yang menarik. UTP sebagai salah satu universitas swasta terbaik di Malaysia yang menempati peringkat 44 Asia berdasarkan pemeringkatan Times Higher Education 2025—menunjukkan komitmen besar dalam memperkuat hubungan dan pertukaran praktik baik pengelolaan alumni di kawasan Asia Tenggara. Kehadiran langsung Dr. Khairul Arifin Mohd Noh selaku Direktur Alumni Relations beserta timnya menjadi penanda kuatnya tujuan tersebut. Suasana diskusi berjalan informal namun substansial, dengan fokus pada penguatan ekosistem alumni sebagai bagian integral dari keberlanjutan institusi pendidikan.

Salah satu poin reflektif yang muncul dari dialog tersebut adalah bahwa pengelolaan jaringan alumni bukan sekadar kegiatan administratif seperti pendataan maupun penyelenggaraan reuni tahunan. Lebih dari itu, alumni merupakan bagian penting yang berperan dalam menentukan arah pengembangan dan reputasi suatu lembaga pendidikan di masa mendatang.
Pemikiran ini sejalan dengan konsep yang telah lama diterapkan dalam tradisi pendidikan Darunnajah melalui Fitur Darunnajah, yang meliputi lima elemen: Fikroh, Shibgoh, Khittoh, Ansyithoh, dan Taqyim. Kelima elemen tersebut membentuk sistem nilai yang memastikan konsistensi identitas kelembagaan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan selama lebih dari lima dekade. Dalam kerangka ini, alumni bukan hanya hasil dari proses pendidikan, tetapi juga agen yang menjaga keberlanjutan nilai-nilai tersebut di tengah dinamika sosial dan profesional yang terus berubah.
Menarik untuk dicatat bahwa UTP sebagai universitas riset modern dan Universitas Darunnajah sebagai institusi perguruan tinggi berbasis pesantren memiliki orientasi yang serupa: membangun hubungan alumni yang kuat sebagai fondasi keberlanjutan institusi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun konteks budaya dan karakter kelembagaan berbeda, tantangan dan tujuan pengelolaan alumni pada dasarnya memiliki irisan yang sama.

Diskusi lintas negara dan lintas budaya pendidikan seperti ini sangat bernilai untuk diperluas. Pertemuan semacam ini memberikan perspektif baru bahwa pengelolaan lembaga pendidikan menghadapi tantangan yang relatif serupa di berbagai belahan dunia, dan perbedaannya terletak pada pendekatan serta strategi yang diterapkan.
Forum tersebut ditutup dengan sejumlah catatan penting dan semangat kolaboratif yang baru. Hal ini mempertegas bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari proses pembelajaran di dalam kampus, tetapi juga dari sejauh mana alumninya mampu membawa, menerapkan, dan melanjutkan nilai-nilai lembaga dalam kiprah profesional mereka.