Cipining, 19 April 2026 — Assoc. Prof. Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si., Presiden Universitas Darunnajah, tampil memberikan sambutan yang sarat dengan data, sejarah, dan visi masa depan dalam Halal Bihalal Nasional IKPDN 1447/2026. Di hadapan ribuan alumni yang memenuhi Auditorium Kampus 1 Pesantren Darunnajah 2 Cipining, beliau membuka cakrawala: dari asal-usul ikrar wakaf Darunnajah hingga peta potensi alumni yang siap untuk digerakkan bersama.
Salah satu bagian paling berkesan dalam sambutan KH. Sofwan Manaf adalah ketika beliau membuka lembar sejarah ikrar wakaf Darunnajah. Ia mengisahkan bahwa pada tahun 1994, KH. Abdul Manaf ayahanda sekaligus pendiri Darunnajah mengumpulkan seluruh keluarga besar untuk memperbarui ikrar wakaf yang sebenarnya sudah diucapkan sejak 1983. Tujuannya sederhana namun mulia: agar masyarakat luas mengetahui bahwa seluruh aset Darunnajah adalah wakaf, bukan milik pribadi siapa pun.

Pada 7 Oktober 1994, ikrar wakaf tersebut diperbarui secara resmi dalam sebuah acara besar yang dihadiri Menteri Agama, ormas-ormas Islam besar seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persis, serta para tokoh dari Majelis Ulama Indonesia. Saat itu, aset yang diwakafkan meliputi lahan di Ulujami dan di Darunnajah 2 Cipining.
“Ini semua berkat keikhlasan para wāqif dan para pendiri Darunnajah,” ungkap KH. Sofwan Manaf dengan penuh haru. Pertumbuhan dari 600 meter menjadi 1.228 hektar dalam kurun waktu beberapa dekade ini menjadikan Darunnajah sebagai salah satu pelopor kewakafan pesantren di Indonesia. KH. Sofwan Manaf juga berbagi cerita yang sangat berkesan tentang pertanyaan yang pernah ia ajukan langsung kepada ayahnya, KH. Abdul Manaf, saat menyaksikan penyusunan naskah ikrar wakaf tahun 1994.

Untuk pertama kalinya, KH. Sofwan Manaf memaparkan data hasil survei alumni Darunnajah Pusat secara terbuka di hadapan ribuan hadirin. Data ini menjadi cermin sekaligus kompas bagi pengembangan jaringan alumni ke depan. Yang paling membanggakan dari data ini adalah kompetensi tertinggi yang diakui para alumni selama mengenyam pendidikan di Darunnajah: kepemimpinan (leadership). Para alumni menyatakan bahwa inilah bekal terbesar yang mereka bawa dari pesantren. Kepuasan dalam pembentukan karakter juga menjadi nilai yang sangat tinggi dalam hasil survei tersebut.
Sofwan Manaf tidak berhenti pada data. Ia melontarkan tantangan sekaligus harapan yang menggelitik kepada para alumni: agar alumni Darunnajah bisa menjadi motivator skala nasional, bahkan internasional, dan masuk dalam 50 besar nasional. “Bisakah menjadi nomor 50 besar? Jalannya sudah ada,” tegasnya penuh keyakinan.
Ia menutup sambutannya dengan mengajak seluruh alumni untuk segera membangun ekosistem kolaborasi: para pengusaha perlu dimunculkan, alumni di bidang pendidikan didorong menyelesaikan S3, dan seluruh potensi dipetakan dengan data yang lebih lengkap. “Dengan berkolaborasi, kita dapat lebih cepat menjadi orang yang bermanfaat khairu ummah,” pungkasnya.