Beranda Alumni Kamu Tipe Alumni Mana?

Kamu Tipe Alumni Mana?

0
Kamu Tipe Alumni Mana?
Universitas Darunnajah

Cipining, 19 April 2026 — Ribuan alumni Darunnajah yang memadati Auditorium Kampus 1 Pesantren Darunnajah 2 Cipining dibuat merenung sejenak ketika Samsul Rahman, M.A. tampil menyampaikan sambutan mewakili para alumni dalam Halal Bihalal Nasional IKPDN 1447/2026. Dengan gaya tutur yang hangat namun tajam, beliau mengajak seluruh hadirin untuk jujur menilai diri: termasuk tipe alumni manakah kita?

Di hadapan jajaran pimpinan Pesantren Darunnajah, para asatidz, jajaran rektorat Universitas Darunnajah, serta ribuan alumni dari berbagai penjuru negeri, Samsul Rahman menegaskan bahwa kehebatan seorang alumni sejati bukan diukur dari capaian materi atau jabatan, melainkan dari sejauh mana ia mengabdikan diri kepada pondok yang telah membesarkannya.

Tiga Tipe Alumni: Muttashil, Mufashil, dan Munqati’

Inti dari sambutan Samsul Rahman adalah pembagian alumni ke dalam tiga tipe yang ia analogikan dari khazanah keilmuan Islam, yakni istilah yang biasa dipakai dalam ilmu hadis dan nahwu untuk menggambarkan tingkat keterputusan sanad:

  1. Muttashil (Alumni Tersambung)

Inilah tipe alumni terbaik  mereka yang hatinya senantiasa terpaut kepada pondok dan para guru (abuya, kyai, dan ustadz). Hubungan mereka dengan almamater tidak pernah putus. Mereka selalu siap hadir kapan pun dibutuhkan, dan siap memberikan apa pun yang bisa mereka berikan untuk kemajuan pondok. Loyalitas, kehadiran, dan kontribusi nyata menjadi ciri utama golongan ini.

  1. Mufashil (Alumni Terpisah Jarak)

Tipe ini menggambarkan alumni yang baik hati dan mencintai pondok, namun terpisah oleh jarak atau kesibukan sehingga belum bisa hadir secara langsung. Meskipun demikian, mereka senantiasa mendoakan pondok dari tempatnya masing-masing dan tetap berkontribusi semampunya — termasuk melalui donasi. Samsul Rahman menegaskan bahwa golongan ini pun sudah sangat baik dan layak diapresiasi.

  1. Munqati’ (Alumni Terputus)

Tipe ketiga adalah alumni yang hubungannya dengan pondok tampak terputus  baik karena kesibukan, jarak, maupun faktor lainnya. Namun Samsul Rahman tidak berhenti di sini; ia mengajak untuk tetap berbaik sangka dan meyakini bahwa di dalam hati mereka tetap ada kecintaan kepada almamater. “Mudah-mudahan Allah memudahkan langkah mereka untuk kembali terhubung dengan pondok,” ujarnya penuh harap.

Usai memaparkan ketiga tipe alumni tersebut, Samsul Rahman melanjutkan dengan seruan yang mengena. Ia mengingatkan agar para alumni tidak menyia-nyiakan potensi dan peluang yang ada di sekitar mereka. Ia menggunakan pepatah yang tepat sasaran: jangan sampai kita seperti ayam yang mati di dalam lumbung padi — dikelilingi banyak peluang, namun tak memanfaatkan satu pun.

Ia menutup bagian ini dengan hadis yang sudah menjadi ruh para santri Darunnajah: “Khairun naas anfa’uhum lin-naas”  sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjadi alumni Darunnajah berarti mengemban tanggung jawab untuk memberi manfaat, bukan hanya menerima.

Di penghujung sambutannya, Samsul Rahman menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus kepada Darunnajah. Beliau mengakui bahwa semua yang diraih para alumni dalam kehidupan  kemampuan berbicara di hadapan publik, kontribusi kepada umat, hingga kehidupan yang lebih bermakna  tidak terlepas dari didikan dan kasih sayang yang diberikan pondok. Ia menegaskan kesiapan diri dan seluruh alumni untuk hadir dan berkontribusi kapan pun dibutuhkan.

Sambutan Samsul Rahman menjadi salah satu momen paling berkesan dalam Halal Bihalal Nasional IKPDN 1447/2026. Pesan tentang tiga tipe alumni  Muttashil, Mufashil, dan Munqati’  diharapkan menjadi bahan refleksi bagi seluruh keluarga besar alumni Universitas Darunnajah untuk semakin mempererat hubungan dengan almamater dan terus berkontribusi bagi kemajuan pondok serta masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini